Apakah Stainless Steel Bisa Berkarat?

karat pada stainless steel

Apakah Stainless Steel Bisa Berkarat? Ya, stainless steel bisa berkarat. Meskipun dikenal sebagai baja tahan karat, material ini sebenarnya lebih tepat disebut “tahan terhadap karat” (corrosion-resistant). Ketahanannya yang luar biasa berasal dari lapisan pelindung tak kasat mata yang disebut kromium oksida. Namun, jika lapisan pelindung ini rusak akibat faktor-faktor tertentu, maka karat pun bisa muncul di permukaannya. Kenyataan teknis di lapangan menunjukkan bahwa istilah stainless (tahan noda) sama sekali tidak bermakna kebal secara absolut terhadap segala bentuk korosi. Baja tahan karat sejatinya adalah paduan logam yang sangat direkayasa untuk menahan korosi secara signifikan, namun material canggih ini tetap memiliki ambang batas operasional.

Tren penggunaan stainless steel dalam industri dimulai pada awal abad ke-20 setelah ditemukan oleh Harry Brearley pada tahun 1913. Namun, penggunaan stainless steel secara luas tidak terjadi segera setelah penemuannya, dan baru mulai menyebar setelah Perang Dunia II. Pada masa itu, permintaan akan logam tahan karat meningkat secara signifikan, karena penggunaan stainless steel pada aplikasi militer seperti kapal dan pesawat terbang. Setelah perang, permintaan terus meningkat dan stainless steel mulai digunakan secara luas dalam industri pembuatan peralatan rumah tangga, otomotif, dan konstruksi.

Hingga saat ini, tren penggunaan stainless steel masih terus berkembang, dengan permintaan terus meningkat untuk berbagai aplikasi industri, termasuk pembuatan peralatan dapur, bangunan, mesin, alat-alat kesehatan, dan banyak lagi.

Kenapa Stainless Steel Tidak Berkarat?

Untuk memahami karat pada stainless steel, kita harus melihat struktur mikroskopisnya. Karat adalah hasil reaksi elektrokimia antara besi, oksigen, dan air. Karena stainless steel masih memiliki unsur besi, secara teori ia bisa beroksidasi. Lalu, apa perisainya?

Lapisan Pasif: Perisai yang Mampu Menyembuhkan Diri

Rahasia utama ketahanan baja tahan karat terletak pada unsur kromium (minimal 10,5%). Ketika kromium terpapar oksigen, terbentuklah lapisan tipis kromium oksida di seluruh permukaan logam.

Lapisan inilah yang dikenal sebagai lapisan pasif (passive film). Ketebalannya hanya beberapa atom dan tidak kasat mata, namun bersifat self-healing. Jika permukaan logam tergores, kromium di bawahnya akan bereaksi dengan oksigen untuk membentuk perisai baru secara instan. Masalah karat pada stainless steel hanya terjadi ketika lapisan pasif ini dirusak secara konstan dan agresif, melebihi kemampuannya untuk memulihkan diri.

Jenis-Jenis Korosi pada Baja Tahan Karat

Degradasi stainless steel tidak selalu berbentuk karat merah yang merata. Material ini memiliki cara hancur yang lebih spesifik:

  1. Korosi Sumuran (Pitting Corrosion): Ini adalah bentuk serangan lokal yang paling ditakuti. Ion klorida (seperti dari garam air laut) mampu menembus titik lemah lapisan pasif, menciptakan lubang kecil (pit) yang menggerogoti bagian dalam logam tanpa terlihat jelas dari luar.
  2. Korosi Antar-butir (Intergranular Corrosion): Sering terjadi akibat proses pengelasan (welding). Pemanasan ekstrem membuat area di sekitar lasan kehilangan kromium pembentuk lapisan pasif.
  3. Korosi Galvanik: Terjadi ketika stainless steel bersentuhan dengan logam lain (seperti baja karbon biasa) di lingkungan yang lembap, menciptakan “baterai” yang mempercepat karat.

Meskipun stainless steel dikenal memiliki ketahanan terhadap karat yang baik, namun pada beberapa kondisi tertentu, stainless steel masih bisa mengalami keroposan. Hal ini biasanya disebabkan oleh adanya paparan lingkungan sekitar seperti : 

Karat pada stainless steel
Karat pada stainless steel
  • Paparan lingkungan asam atau basa yang tinggi, seperti pada industri kimia atau pengolahan makanan, dapat merusak permukaan stainless steel dan mengurangi ketahanannya terhadap korosi.
  • Kelembaban yang tinggi dan lingkungan dengan kadar garam yang tinggi, seperti pada daerah pantai, juga dapat menyebabkan terjadinya korosi pada stainless steel.
  • Paparan lingkungan dengan suhu yang sangat rendah atau sangat tinggi dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia dari stainless steel dan menyebabkan kerusakan pada permukaannya.
  • Terpapar bahan kimia atau gas beracun yang terkandung dalam lingkungan kerja, seperti gas asam klorida atau ammonia, juga dapat merusak permukaan stainless steel.
  • Kontaminasi logam lain, seperti besi atau karbon, dapat terjadi selama proses produksi atau pengolahan stainless steel dan mempengaruhi kualitasnya.
  • Untuk mempertahankan kualitas stainless steel, diperlukan perlindungan terhadap faktor-faktor yang dapat merusaknya. Selain itu, pemilihan jenis stainless steel yang sesuai dengan lingkungan kerja juga sangat penting untuk memastikan ketahanannya terhadap korosi dan kerusakan.

Selain itu, beberapa faktor lain seperti perbedaan kualitas atau jenis stainless steel, suhu dan tekanan, finishing serta metode produksi dan pengolahan logam juga dapat mempengaruhi sifat tahan karat dari stainless steel. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih jenis stainless steel yang sesuai dengan aplikasinya dan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kinerja stainless steel tersebut.

Finishing Stainless yang Tahan Karat

Gulungan Stainless Steel
Gulungan Stainless Steel
Sumber foto: Istock.com

Terdapat beberapa jenis finishing atau perlakuan permukaan stainless steel yang dapat meningkatkan sifat tahan karat dari logam tersebut, antara lain:

  • Polos atau dengan butir halus (smooth finish): Finishing polos pada permukaan stainless steel dapat mengurangi peluang terjadinya karat karena permukaan yang halus mengurangi area permukaan logam yang dapat teroksidasi.
  • Mengkilap (mirror finish): Finishing mengkilap pada permukaan stainless steel dapat membentuk lapisan oksida yang lebih kuat dan padat, sehingga meningkatkan ketahanan terhadap korosi.
  • Brush (brushed finish): Finishing brush pada permukaan stainless steel memberikan tekstur pada permukaan logam, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya karat karena kontak yang kurang langsung dengan lingkungan korosif.
  • Electropolishing: Finishing electropolishing adalah teknik yang melibatkan penggunaan arus listrik untuk membersihkan dan menghaluskan permukaan stainless steel. Metode ini dapat meningkatkan ketahanan terhadap karat dan memperbaiki kekurangan sifat tahan karat pada permukaan logam.
  • Lapisan pelindung (protective coating): Lapisan pelindung seperti cat, film, atau pelapis khusus dapat diterapkan pada permukaan stainless steel untuk meningkatkan sifat tahan karat logam dan melindunginya dari lingkungan korosif.

Cara Merawat Stainless Steel

Cara Merawat Stainless Steel
Cara Merawat Stainless Steel

Berikut adalah beberapa tips dalam merawat stainless steel:

  • Bersihkan permukaan stainless steel secara teratur dengan menggunakan sabun lembut, air hangat, dan kain lembut.
  • Hindari penggunaan pembersih berbasis klorin atau asam sulfat, karena dapat merusak permukaan stainless steel.
  • Hindari penggunaan spons atau sikat kasar yang dapat meninggalkan goresan pada permukaan stainless steel.
  • Bersihkan noda dan bekas sidik jari dengan menggunakan cairan pembersih khusus untuk stainless steel.
  • Jangan biarkan air atau minyak menempel terlalu lama pada permukaan stainless steel, segera bersihkan jika terkena cairan tersebut.
  • Jangan gunakan produk yang tidak cocok dengan stainless steel, misalnya produk pengkilap logam atau pewangi ruangan.
  • Jika korosi terlanjur terjadi dan menciptakan goresan atau lubang minor, segera lakukan isolasi area tersebut. Untuk kerusakan non-struktural yang belum fatal, penggunaan resin epoksi logam (stainless steel putty) dapat dipertimbangkan sebagai penambal darurat yang tahan karat, sebelum dilakukan perombakan.

Jadi, apakah stainless steel bisa berkarat? Jawabannya adalah ya, jika perisai pasifnya dihancurkan oleh salinitas, bahan kimia, salah pilih spesifikasi (grade), atau perawatan yang keliru.

Untuk melindungi aset konstruksi bernilai tinggi Anda:

  1. Pilih Grade yang Tepat: Gunakan Grade 316 untuk lingkungan pesisir atau industri berat; Grade 304 cukup untuk interior standar.
  2. Terapkan Pasivasi: Wajibkan kontraktor fabrikasi melakukan pasivasi kimiawi pada setiap sambungan las paska-pemasangan.
  3. Edukasi Kru Pemeliharaan: Larang keras penggunaan cairan pembersih asam (HCl) dan sikat baja konvensional pada rutinitas pembersihan.

Bagaimana sudah dapat menentukan jenis stainless steel apa yang akan jadi kebutuhan Anda nanti? Anda bisa membeli material stainless steel berkualitas dengan mengunjungi toko besi terbaik.

stainless steel
Bagikan sekarang