WASPADA PENIPUAN yang mengatasnamakan SMS Perkasa! Transaksi sah HANYA ke rekening a/n PT. Sumber Makmur Surya Perkasa. Cek selengkapnya Di sini

Prosedur Quality Control Material Baja Proyek Gudang: Cara Membaca Mill Test Certificate & Uji Tarik

Proses verifikasi dokumen Mill Test Certificate (MTC) baja struktural

Struktur baja pada proyek gudang menanggung beban mati dan beban hidup yang sangat besar. Kesalahan dalam menerima material seperti toleransi ukuran yang terlalu jauh atau spesifikasi baja yang tidak sesuai standar dapat berujung pada kegagalan struktur, penolakan saat audit, hingga pembengkakan biaya proyek. Oleh karena itu, prosedur QC proyek gudang saat penerimaan barang di lapangan (site) menjadi garis pertahanan pertama bagi kontraktor.

Prosedur penerimaan dan QC proyek gudang untuk material baja meliputi 3 tahap utama yaitu verifikasi keaslian Mill Test Certificate (MTC) dengan mencocokkan Heat Number pada label fisik material, pengujian mekanis sampel ke laboratorium independen untuk uji tarik besi beton dan uji tekuk sesuai standar SNI 2052:2017, serta inspeksi visual dan dimensi fisik di lapangan menggunakan jangka sorong (caliper) untuk memastikan toleransi diameter dan tidak ada cacat karat berat.

Berikut adalah panduan teknis bagi tim Quality Control (QC) konstruksi untuk memastikan legalitas dan kualitas baja yang masuk ke lokasi proyek.

1. Cara Membaca Mill Certificate Baja (Asli vs Palsu)

Setiap pengiriman baja struktural, seperti Besi WF atau besi beton, idealnya harus disertai dengan Mill Test Certificate (MTC) dari pabrikan. MTC adalah dokumen legal yang menjamin bahwa material tersebut telah diuji dan memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.

Saat menerima MTC, tim QC material konstruksi harus memeriksa elemen berikut:

  • Heat Number (Nomor Leburan): Ini adalah nomor pelacakan paling krusial. Heat number yang tercetak di kertas MTC wajib sama persis dengan pelat identitas (label tag) yang menempel pada bundel fisik baja di lapangan. Jika berbeda, material tersebut berisiko ditolak.
  • Spesifikasi Mekanis: Cek nilai Yield Strength (Batas Luluh), Tensile Strength (Batas Tarik), dan Elongation (Regangan). Pastikan nilainya masuk dalam rentang standar yang disyaratkan oleh engineer proyek.
  • Komposisi Kimia (Chemical Composition): Perhatikan kadar Karbon (C) dan Carbon Equivalent (CE), karena ini akan sangat memengaruhi tingkat kemudahan baja saat proses pengelasan (weldability) dalam fabrikasi struktur gudang.

Cara Mendeteksi Sertifikat Palsu: Hati-hati dengan MTC hasil salinan (fotokopi) yang buram, logo pabrik yang tidak proporsional, atau tidak adanya stempel Quality Assurance (QA) pabrik yang valid. Minta dokumen yang terbaca jelas dari supplier.

2. Prosedur Uji Tarik Besi Beton & Uji Tekuk

Meskipun MTC sudah ada, kontraktor gudang berskala menengah hingga besar tetap wajib mengambil sampel material untuk diuji silang di laboratorium independen. Khusus untuk material Besi Beton, pengujian mengacu pada kualitas besi beton SNI 2052.

  • Uji Tarik (Tensile Test): Baja ditarik menggunakan mesin Universal Testing Machine (UTM) hingga putus. Pengujian ini memastikan besi beton mampu menahan gaya tarik saat diaplikasikan pada pelat lantai atau struktur beton gudang tanpa putus tiba-tiba.
  • Uji Tekuk (Bending Test): Sampel besi ditekuk hingga sudut tertentu (biasanya 180 derajat) untuk melihat apakah ada retakan (crack) pada sisi luar lengkungan. Jika retak, besi tersebut rapuh dan tidak lolos standar SNI.

3. Inspeksi Visual dan Fisik di Lapangan

Pemeriksaan fisik di lokasi proyek gudang adalah tahap yang tidak boleh dilewatkan sebelum material diturunkan dari truk pengiriman (unloading). Tim QC harus melakukan:

  • Pengecekan Toleransi Diameter: Gunakan jangka sorong digital (caliper). Ukur diameter besi di beberapa titik. Besi beton bersertifikat SNI memiliki batas toleransi ukuran (misalnya, deviasi maksimal yang diizinkan BSN). Jika ukurannya terlalu jauh di bawah nominal (besi banci), material harus dikembalikan.
  • Pengecekan Marking SNI: Pastikan terdapat embos merek pabrik, inisial ukuran, dan grade baja (misalnya BjTS 420B untuk besi ulir) pada badan baja.
  • Kondisi Permukaan: Cek material dari cacat serius, retakan, atau karat berat (karat yang sudah memakan daging baja dan mengelupas berlapis-lapis). Sedikit karat permukaan (surface rust) umumnya wajar akibat kelembapan, namun pitting rust tidak dapat ditoleransi.

Kesimpulan

Prosedur QC material baja pada proyek gudang mulai dari verifikasi keaslian Mill Test Certificate (MTC), uji tarik dan tekuk di laboratorium independen, hingga inspeksi toleransi fisik di lapangan merupakan garis pertahanan utama kontraktor. Mengabaikan tahapan ini tidak hanya berisiko memicu penolakan material saat audit, tetapi juga dapat berujung pada pembongkaran ulang (rework) yang mahal dan bahaya kegagalan struktur jangka panjang.

Penerapan prosedur QC yang ketat di site akan berjalan jauh lebih lancar ketika Anda bekerja sama dengan distributor baja yang transparan sejak awal, mampu menyediakan dokumen leburan resmi yang sesuai dengan heat number, serta konsisten menyuplai material berstandar SNI.

Sebagai mitra pengadaan baja yang memahami ketatnya standar proyek konstruksi, SMS Perkasa tidak sekadar mengirimkan barang. Kami berkomitmen menyediakan baja struktural dan besi beton yang spesifikasi serta legalitas dokumennya dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tim QC Anda dapat bekerja dengan tenang.

besi terbaik

Baca Juga: Strategi Pemilihan Besi dan Pengadaan Rantai Pasok Daerah

Bagikan sekarang